Syukur? Mungkin semua orang tahu artinya, definisi dan maknanya semua sudah mengerti. Apalagi orang Muslim, atau yang mengaku muslim ataupun yang beridentitas muslim, gengsi dung kalau ga tahu kata syukur ini. Semua pasti sudah familiar ya..sepakat!!!
Then, apakah cukup setelah kamu tahu arti kata2 syukur ini. Sebatas tahu maknanya saja, apakah sudah ok? Sebenarnya syukur itu sendiri seperti apa sehh? Apakah mengucapkan Alhamdulillah ketika musim kemarau turan hujan…ataukah sujud sukur ketika menang undian berhadiah…atau shodaqoh pada anak yatim ketika proyeknya sukses?? Seperti itukah syukur? Hayooo???
Essensi dari syukur itu bukan sekedar sujud syukur, sekedar berucap lafal hamdalah, atau shodaqah ketika proyek sukses atau atas keberhasilan yang kita capai. Tapi syukur itu luas, bahkan ketika kita ditimpa musibah sekalipun masih ada syukur disana. Bersyukur ketika musibah itu menimpa, adalah hal yang luarbiasa, seseorang yangf dapat mengambil hikmah dari setia kejadian yang ditimpakan Allah padanya, itulah orang yang pandai bersyukur.
Aneh mungkin ketika seseorang bersyukur atas bencana atau musibah yang menimpanya. Musibah kok di Syukuri??!!!! Ketika seseorang bisa merasakan betapa semakin dekatnya ia dengan sang Khalik setelah musibah itu datang. Ketika seseorang menyadari bahwa musibah yang ditimpakan untuknya adalah bentuk kasihsayang Allah yang tidak dilimpahkan pada orang lain. Saat seseorang tahu bahwa Allah akan memberinya ‘Pelangi’ setelah ‘Hujan petir’ menghantamnya. Saat seseorang tahu bahwa Allah menempa dirinya, Allah sedang menguji keimanannya dan Allah menguji kesabarannya. Dan dia bersyukur, karena dengan musibah itu, Allah mengampuni dosa2nya, Allah akan meninggikan derajatnya karena kesabaran dan keikhlasannya. Subhanallah….
Lalu seperti apa bentuk syukur itu?? Saya akan mencoba member beberapa contoh saj yang saya tahu. Meskipun banyak sekali hal2 yang harus kita syukuri, mulai dari Ni’mat, Rahmat, karunia, dll yang sangat tak terhitung jumlahnya, tapi setidaknya beberapa diantaranya bisa kita cermati sebagai contohnya.
Misalnya, bagaimana kita bersyukur terhadap ni’mat waktu yang diberikan Allah secara cuma2 ini? Kita diberi waktu gratis oleh Allah satu tahun 12 bulan, satu bulan ada 4-5 minggu, satu minggu 7 hari, sehari semalam ada 24 jam, satu jam 60 menit, satu menit 60 detik, berarti sehari semalam ada 24 x 60 = 1440 menit, dan kita hidup sudah sekian tahun. Bayangkan jika Allah meminta bayaran seperti operator selluler yang pasang tarif perdetik sekian rupiah, bisa apa kita??!! Allah memerintahkan kita dalam waktu2 itu adalah Sholat wajib 5 waktu dalam sehari semalam, jika dihitung per sholat membutuhkan waktu 30 menit, berarti 30 x 5 =150 menit /hari, nah apakah kita sudah benar2 mengoptimalkan waktu yang 150 menit itu setelah dibebaskan menggunakan 1440 – 150 =1290 menit free!!!
Kalau dipikir2, alangkah kikirnya kita yang masih sering tergesa2 saat sholat, atau bahkan meninggalkan sholat dengan alasan apapun yang sama sekali tidak syar’i. Apakah waktu yang diminta Allah untuk berbincang denganNya terlalu banyak, ataukagh waktu yang digratiskan untuk kita terlalu sedikit??!!! Bertaubatlah teman…
Belum lagi jika kita pikirkan, betapa pemurahnya Allah pada kita, memberikan waktu makan yang bebas pada kita. Satu minggu ada 7 hari, dan kita disunahkan untuk berpuasa senin-kamis, dua hari itu pada setiap minggunya. Tapi terbukti, tidak banyak yang mau melaksanakan sunah mulia ini. Padahal 7hari – 2 hari masih ada 5 hari yang dibebaskan untuk menikmatinya. Apakah 5 hari itu kurang untuk kita nikmati? Mengapa kita sangat pelit untuk merelakan dua hari kita berpuasa melaksanakan sunnah Rsul tercinta??!! Astagfirullahaladziiim..semoga Allah mengampuni dosa2 dan kekikiran kita…
Pada intinya, bersyukur adalah menggunakan segala yang diberikan Allah dengan sebaik2nya. Tidak berlaku dzalim. Berbuat baik, ikhlas dan shabar. Semua yang ada di alam semesta hanyalah milik Allah, kita hanya manusia yang sama sekali tak punya hak terhadap apapun milik Allah…
Semoga kita termasuk dalam golongan orang2 yang bersyukur…
Amiiin,,,,
Kamis, 19 Maret 2009
Selasa, 17 Maret 2009
MUTIARA DIAWAN
Tiada kebaikan bagi pembicaraan kecuali didasari dengan amalan.Tiada kebaikan bagi harta kecuali didasari dengan kedermawanan.Tiada kebaikan bagi sahabat kecuali didasari dengan kesetiaan.Tiada kebaikan bagi sedekah kecuali didasri dengan keikhlasan.Tiada kebaikan bagi kehidupan kecuali didasari dengan ketaan.Tiada kebaikan bagi ketaan kecuali didasari ketaatan pada Tuhan
dari:komplek Sakinah
Tiada kebaikan bagi pembicaraan kecuali didasari dengan amalan.Tiada kebaikan bagi harta kecuali didasari dengan kedermawanan.Tiada kebaikan bagi sahabat kecuali didasari dengan kesetiaan.Tiada kebaikan bagi sedekah kecuali didasri dengan keikhlasan.Tiada kebaikan bagi kehidupan kecuali didasari dengan ketaan.Tiada kebaikan bagi ketaan kecuali didasari ketaatan pada Tuhan
dari:komplek Sakinah
Senin, 05 Januari 2009
Manusia..........!!!!
Tenggelam
Jam-jam mulai berjalan
Menerpa wajah-wajah lusuh tak terbasuh
Deringan angin berkasak-kusuk
Membangunkan kematian saat-saat santai
Yang terlelap merangkak dalam rutinitas
Pagi buta yang ikut membutakan Penglihatan jiwa terhadap panggilan Sang Pencipta
Penyeruan demi penyeruan
seakan tertambat
Pada dinding-dinding waktu yang tak pernah bergeming
Meski sejenak
Tanpa rutinitas
Mata-mata itu tampak semakin meletih
Lebih mencekung dan gelap tak tertembus
Cahaya iman sepertinya tak sanggup menyentuhnya
Tatapan kosong
Gelap
Mungkin
Janjinya pada sang Khalik dulu adalah
Hidup untuk bekerja
Memenuhi lingkaran-lingkaran rutinitas yang ia ciptakan sendiri
Mematikan kebahagiaannya satu-satu
Dan dia tahu
Dia membuatnya seolah-olah itulah kebahagiaan
Mungkin dia lupa
Karena seluruh rambutnya kini
Sudah ikut berhias
Berkaca pada waktu
Memerak lusuh
Menyambut keletihan dan keletihan
Menanti datangnya waktu
Yang Pasti tiba untuknya…
Jam-jam mulai berjalan
Menerpa wajah-wajah lusuh tak terbasuh
Deringan angin berkasak-kusuk
Membangunkan kematian saat-saat santai
Yang terlelap merangkak dalam rutinitas
Pagi buta yang ikut membutakan Penglihatan jiwa terhadap panggilan Sang Pencipta
Penyeruan demi penyeruan
seakan tertambat
Pada dinding-dinding waktu yang tak pernah bergeming
Meski sejenak
Tanpa rutinitas
Mata-mata itu tampak semakin meletih
Lebih mencekung dan gelap tak tertembus
Cahaya iman sepertinya tak sanggup menyentuhnya
Tatapan kosong
Gelap
Mungkin
Janjinya pada sang Khalik dulu adalah
Hidup untuk bekerja
Memenuhi lingkaran-lingkaran rutinitas yang ia ciptakan sendiri
Mematikan kebahagiaannya satu-satu
Dan dia tahu
Dia membuatnya seolah-olah itulah kebahagiaan
Mungkin dia lupa
Karena seluruh rambutnya kini
Sudah ikut berhias
Berkaca pada waktu
Memerak lusuh
Menyambut keletihan dan keletihan
Menanti datangnya waktu
Yang Pasti tiba untuknya…
Sedikit Kata....
Mungkin manusia bisa bicara dengan indera lahiriyah yang memesona....
Tapi alam mengajarinya untuk berbicara tak sekedar indera...
Hanya saja....
Manusia terlalu angkuh...
Menolak yang sebenarnya ia butuhkan...
Manusia itu egois...
Contohnya?wah...
Sayang sekali jika sobat MASIH menanyakannya...
Dunia ini sudah hampir terkotori seluruhnya...
Ada lagi kisah manusia yang katanya manusiawi..
Tapi sebenarnya dia mendahului Tuhan...
Berani sekali dia!!!
Menilai diri sendiri sesukanya..
Menilai orang lain dan makhluknya se-penglihatan inderanya...
Memang manusia itu sok tahu ya??
Padahal, yang berHak menilai makhlukNya kan ya Yang Maha Menciptakan makhluk....
Mungkin manusia bisa bicara dengan indera lahiriyah yang memesona....
Tapi alam mengajarinya untuk berbicara tak sekedar indera...
Hanya saja....
Manusia terlalu angkuh...
Menolak yang sebenarnya ia butuhkan...
Manusia itu egois...
Contohnya?wah...
Sayang sekali jika sobat MASIH menanyakannya...
Dunia ini sudah hampir terkotori seluruhnya...
Ada lagi kisah manusia yang katanya manusiawi..
Tapi sebenarnya dia mendahului Tuhan...
Berani sekali dia!!!
Menilai diri sendiri sesukanya..
Menilai orang lain dan makhluknya se-penglihatan inderanya...
Memang manusia itu sok tahu ya??
Padahal, yang berHak menilai makhlukNya kan ya Yang Maha Menciptakan makhluk....
Sabtu, 13 Desember 2008
Indonesiaku, berubahlah!
Ada berjuta-juta wacana tentang bumi Pertiwi. Dengan masalah yang segudang, apa yang dilakukan pemudanya mengenai tanah kelahirannya yang sebegitu menderitanya? Pemuda adalah ganarasi penerus bangsa, agent of chage, tapi apa?Mana? banyak sekali pemuda-pemuda pemalas yang justru hanya suka tidur! Tak peduli, jangankan berpikir untuk negerinya, untuk dirinya sendiri saja tak terurus!
Ada lagi yang aneh sekarang ini, pemuda-pemuda desa sudah ikut-iut terbawa model pemuda kota, sok kota! Ini masalah. Mereka sekaarang menganggap bahwa pekerjaan di desa itu nggak keren! So, mereka memilih pergi merantau ke kota, meskipun menjadi tukang sapu, tukang pel, atau pemenuh jalanan dengan ngamen. Budak peradaban.
Sedikit cerita dari desa, ini mungkin dapat membuka mata kita nantinya, dalam melihat realita kehidupan pemuda bangsa ini. Saya pernah berkunjung ke suatu desa, karena mendapat tuigas kuliah. Tugasnya adalah observasi ke wilayah pertanian untuk mengetahui bagaimana kehidupan para petani. ini salah satu cuplikan wawancaranya.
" Bapak sudah lama bekerja sebagai petani?"
"Wah saya sudah lama sekali Mbak, hampir 30 tahun".
"Wah, cukup lama juga ya Pak, ini pertanian keluarga ya pak? Asyik sekali sepertinya, satu keluarga bekerja bareng mengelola lahan".
"O nggak mbak, ini yang mengerjakan paling cuma saya sama ibunya, soalnya anak-anak saya pada merantau"."Lho kok merantau Pak? Padahal kan Pertanian juga cukup menghasilkan dan pendapatannya juga cukup besar jika dikelola dengan baik? Bukan begitu Pak?
"iya sih Mbak, tapi anak muda sekarang kan memang begitu Mbak, mana ada yang mau bekerja di sawah, jadi petani, mereka nggak mau. Disini rata-rata yang mau menggarap sawahnya hanya orang-orang sepuh (tua). Yang muda pada lari ke kota, paling pulang waktu lebaran Mbak".
"O begitu Pak, memang kerja apa di kota?"
"ya macem-macem Mbak, ada yang di kantoran jadi tukang sapu, ada juga yang jadi babu, tapi mereka seneng kok, katanya kerja di kota lebih enak, lebih terjamin hidupnya, jadi yang mau mengurus sawah cuma orang-orang tua tok Mbak " Ungkap Bapak Karman dengan nada sedih.
Hmm...Itu baru segelintir kisah. Bagaimana kita menciptakan solusi untuk masalah-masalah seperti ini?
Ada lagi yang aneh sekarang ini, pemuda-pemuda desa sudah ikut-iut terbawa model pemuda kota, sok kota! Ini masalah. Mereka sekaarang menganggap bahwa pekerjaan di desa itu nggak keren! So, mereka memilih pergi merantau ke kota, meskipun menjadi tukang sapu, tukang pel, atau pemenuh jalanan dengan ngamen. Budak peradaban.
Sedikit cerita dari desa, ini mungkin dapat membuka mata kita nantinya, dalam melihat realita kehidupan pemuda bangsa ini. Saya pernah berkunjung ke suatu desa, karena mendapat tuigas kuliah. Tugasnya adalah observasi ke wilayah pertanian untuk mengetahui bagaimana kehidupan para petani. ini salah satu cuplikan wawancaranya.
" Bapak sudah lama bekerja sebagai petani?"
"Wah saya sudah lama sekali Mbak, hampir 30 tahun".
"Wah, cukup lama juga ya Pak, ini pertanian keluarga ya pak? Asyik sekali sepertinya, satu keluarga bekerja bareng mengelola lahan".
"O nggak mbak, ini yang mengerjakan paling cuma saya sama ibunya, soalnya anak-anak saya pada merantau"."Lho kok merantau Pak? Padahal kan Pertanian juga cukup menghasilkan dan pendapatannya juga cukup besar jika dikelola dengan baik? Bukan begitu Pak?
"iya sih Mbak, tapi anak muda sekarang kan memang begitu Mbak, mana ada yang mau bekerja di sawah, jadi petani, mereka nggak mau. Disini rata-rata yang mau menggarap sawahnya hanya orang-orang sepuh (tua). Yang muda pada lari ke kota, paling pulang waktu lebaran Mbak".
"O begitu Pak, memang kerja apa di kota?"
"ya macem-macem Mbak, ada yang di kantoran jadi tukang sapu, ada juga yang jadi babu, tapi mereka seneng kok, katanya kerja di kota lebih enak, lebih terjamin hidupnya, jadi yang mau mengurus sawah cuma orang-orang tua tok Mbak " Ungkap Bapak Karman dengan nada sedih.
Hmm...Itu baru segelintir kisah. Bagaimana kita menciptakan solusi untuk masalah-masalah seperti ini?
Rabu, 19 November 2008
lihat dirimu
Sesaat memang meragukan untuk suatu perubahan. Adakalanya kita harus bolak-balik pada pertanyaan yang lalu, masih saja menoleh ke belakang. Berubah sebenarnya proses, bukan keseketikaan. Ini merupakan proses dalam menemukan jati diri. Dan memang tidak mudah untuk melalui proses tersebut. Berubah adalah menemukan titik dimana pijakan sesungguhnya yang layak untuk kita tempuh, bukan meniti jalan yang sudah kita pijak sekarang. Titik yang terlihat mungkin samar-samar, sehingga wajar juka keraguan itu ada. Dan satu saja kuncinya, mantapkan hati untuk suatu perubahan, bersyukur ketika perubahan itu ada, artinya kita SIAP untuk memulai metamorfosa kehidupan kita.
Dan berbanggalah, karena dengan berubah, berarti kita benar-benar merasakan hidup, menghargai hidup. Tinggal kita menentukan arah mana kita menuju perubahan, n action dalam mengisi perubahan. Lihat saja kedalam diri. Apa yang dia inginkan.
Letakkan telapak kaki, ikuti dengan segenap hati dan jiwa, majulah sekarang tanpa bertanya lagi untuk apa dan mengapa, sadarlah bahwa dirimu menantikan perubahan itu.
Dan berbanggalah, karena dengan berubah, berarti kita benar-benar merasakan hidup, menghargai hidup. Tinggal kita menentukan arah mana kita menuju perubahan, n action dalam mengisi perubahan. Lihat saja kedalam diri. Apa yang dia inginkan.
Letakkan telapak kaki, ikuti dengan segenap hati dan jiwa, majulah sekarang tanpa bertanya lagi untuk apa dan mengapa, sadarlah bahwa dirimu menantikan perubahan itu.
Minggu, 16 November 2008
saat hati harus berteriak!
Pagi memang tak selamanya cerah, hidup tak selamanya mudah, dan kadang, suara hati ini tak lagi didengar oleh jiwa. Tertolak....
hingga akhirnya kenyataan itu datang.
Kejadian-kejadian pahit yang menerpa hidup, terkadang memaksa hati untuk pingsan, diam dalam buaian gejolak. ..
Dan mungkin tak mungkin...
Hati terkadang tak mampu mendaki terjalnya kesombongan yang dibuatnya sendiri....
Dan sekarang... ketika kesadaran kembali....
Hati legam bergejolak menyibak keraguan....
Mulai mengintai dan menyelami...
Bangkit perbaiki tatanan yang lantak...
hingga akhirnya kenyataan itu datang.
Kejadian-kejadian pahit yang menerpa hidup, terkadang memaksa hati untuk pingsan, diam dalam buaian gejolak. ..
Dan mungkin tak mungkin...
Hati terkadang tak mampu mendaki terjalnya kesombongan yang dibuatnya sendiri....
Dan sekarang... ketika kesadaran kembali....
Hati legam bergejolak menyibak keraguan....
Mulai mengintai dan menyelami...
Bangkit perbaiki tatanan yang lantak...
Langganan:
Postingan (Atom)